Kamis, 26 April 2018

Bacaan Liturgi 27 April 2018


Bacaan Liturgi 27 April 2018

Hari Biasa Pekan Paskah IV

Bacaan Pertama
Kis 13:26-33
Janji telah digenapi Allah dengan membangkitkan Yesus.
Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Dalam perjalanannya Paulus sampai di Antiokhia di Pisidia.
Di rumah ibadat Yahudi di sana Paulus berkata,
"Hai saudara-saudaraku,
baik yang termasuk keturunan Abraham,
maupun yang takut akan Allah,
kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.

Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya
tidak mengakui Yesus.
Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus,
mereka menggenapi perkataan nabi-nabi
yang dibacakan setiap hari Sabat.
Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu
yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati,
namun mereka telah meminta kepada Pilatus
supaya Yesus dibunuh.
Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu
yang ada tertulis tentang Dia,
mereka menurunkan Dia dari kayu salib,
lalu membaringkan-Nya di dalam kubur.

Tetapi Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.
Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka
yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem.
Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini.

Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu,
yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,
telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka,
dengan membangkitkan Yesus,
seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua:
Anak-Kulah Engkau!
Pada hari ini Engkau telah Kuperanakkan."

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 2:6-7.8-9.10-11
R:7
Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan.
*Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion,
gunung-Ku yang kudus!"
Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan:
Ia berkata kepadaku, "Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan."

*Mintalah kepada-Ku,
maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu
menjadi milik pusakamu,
dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi,
dan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."

*Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana,
terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
Beribadahlah kepada Tuhan dengan takwa,
dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.

Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.

Bacaan Injil
Yoh 14:1-6
Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,
supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana."
Kata Tomas kepada-Nya,
"Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi;
jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?"
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.

Demikianlah sabda Tuhan.

Jumat, 29 September 2017

Perpanjangan Waktu Cut-Off Pengiriman Data PMP 2017

Yth. Bapak/Ibu
  1. Kepala LPMP
  2. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
  3. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  4. Kepala Sekolah SD, SMP, SMA, SMK
di Seluruh Indonesia
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dengan hormat diberitahukan kepada seluruh Kepala Sekolah, Pengawas, LPMP, Dinas Pendidikan Kab/kota dan Propinsi, sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor:09/D/PD/2017 tentang Pemetaan Mutu Pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018 menyatakan bahwa batas waktu pengumpulan data PMP Dikdasmen adalah sampai dengan 30 September 2017.
Sehubungan dengan perkembangan yang ada, serta memperhatikan pemutakhiran data dapodik dengan aplikasi terbaru versi 2018 dan Cutt-off Pendataan BOS yaitu tanggal 22 September 2017 yang berdekatan dengan batas waktu pengiriman data PMP, maka batas waktu (Cutt-Off) pengiriman data PMP diperpanjang sampai dengan 20 Oktober 2017.
Adapun terdapat beberapa informasi yang perlu diperhatikan mengenai pemutakhiran data PMP Dikdasmen:
  1. Penggunaan Aplikasi PMP Terbaru Versi 2.0 dan Updater Versi 2.1
    1. Pengerjaan Aplikasi PMP dapat menggunakan versi 2.0 ataupun Updater 2.1. Apabila data responden telah terpenuhi, dapat melakukan konfirmasi dan pengiriman data, serta tercatat sudah kirim/diproses di website pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id, berarti sekolah telah memenuhi kewajiban pengiriman data PMP 2017.
    2. Langkah yang harus diperhatikan dalam memperbarui aplikasi PMP adalah sebagai berikut:
      • Backup Data PMP dan simpan di folder yang aman (bukan folder Program Files)
      • Lakukan Instalasi sesuai dengan jenis file yang digunakan yaitu Installer (85,88 MB) atau Updater (45,7 MB)
      • Instalasi menggunakan Installer: Backup data -> Uninstall versi 2.0 -> Install versi 2.1 -> Restore data yang telah di-Backup
      • Instalasi menggunakan Updater: Backup data -> Install Updater versi 2.1
      • Cek Ulang Kofirmasi dan Kirim Data
    3. Beberapa kesalahan dan masalah yang sering dijumpai pada Aplikasi PMP tahun 2017 yaitu:
      • Data Lupa belum di-Backup
      • Kesalahan menggunakan file Instaler/Updater. Seharusnya menggunakan Installer jika ingin melakukan instal ulang aplikasi, atau sebaliknya jika tidak melakukan instal ulang maka langsung saja menggunakan updater. Perbedaan terdapat pada ukuran file tersebut.
      • Menggunakan dua aplikasi Dapodik dalam satu laptop
      • Tidak dapat melakukan salin PTK atau PD, dsb.
  2. Informasi waktu pemrosesan data di website PMP dari mulai dikirim sampai dengan sudah diproses dilakukan secara tertunda/tidak real time dengan penjelasan berikut:
    1. Status Pengiriman adalah: Belum Kirim – Sudah Kirim – Sudah Diproses atau Gagal Diproses
    2. Setelah sekolah berhasil melakukan proses pengiriman data, maka server hanya menerima file-file PMP sekolah.
    3. Update Pengiriman Sehari (1x24 jam) setelah sekolah melakukan pengiriman, maka server memproses file-file PMP dengan mencatat log /waktu pengiriman beserta data jawaban ke dalam database. Misalnya jika sekolah melakukan pengiriman di tanggal 20 September 2017, maka log pengiriman baru akan masuk ke dalam database pada tanggal 21 September 2017.
    4. Setelah log pengiriman sekolah dan file PMP diproses, maka website PMP melakukan sistem pembaharuan informasi secara berkala setiap 6 jam sekali yaitu pukul 00.00 WIB, 06.00 WIB, 12.00 WIB dan jam 18.00 WIB. Jadi misalkan waktu pengiriman yang sudah diproses dan masuk ke dalam database selesai pada jam 09.00 WIB, maka datanya baru bisa dilihat pada pukul 12.00.
    5. Jika dalam waktu lebih dari 3x24 jam data masih menunjukkan status Belum Kirim atau Gagal Diproses silahkan menghubungi LPMP, Dinas terkait untuk diinformasikan kepada admin pusat.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam Satu Data,
Ditjen Dikdasmen

Sumber
http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id/berita/perpanjangan-waktu-cut-off-pengiriman-data-pmp-2017

Selasa, 11 April 2017

Perkembangan Moral Kognitif Anak Menurut Lawrence Kohlberg

Kohlberg lebih berfokus pada kognitif moral atau moral reasoning.
Mengacu kepada teori perkembangan Piaget yang berfokus pada perkembangan kognitif, Kohlberg lebih berfokus pada kognitif moral atau moral reasoning. Kemampuan kognitif moral seseorang dapat diukur dengan menghadapkannya dengan dilema moral hipotesis yang terkait dengan kebenaran, keadilan, konflik terkait aturan dan kewajiban moral. Manurut Kohlberg, perkembangan moral kognitif anak terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1) Preconventional moral reasoning

a) Obidience and paunisment orientation
Pada tahap ini, orientasi anak masih pada konsekuensi fisik dari perbuatan benar – salahnya, yaitu hukuman dan kepatuhan. Mereka hormat kepada penguasa, penguasalah yang menetapkan aturan / undang-undang, mereka berbuat benar untuk menghindari hukuman.

b) Naively egoistic orientation
Pada tahap ini, anak beorientasi pada instrument relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-kadang) juga orang lain. Kepeduliannya pada keadilan / ketidakadilan bersifat pragmatic, yaitu
apakah mendatangkan keuntungan atau tidak.

2) Conventional moral reasoning

a) Good boy orientation
Pada tahap ini, orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau diepakati oleh orang lain. Orientasi ini juga disebut good / nice boy orientation. Anak patuh pada karakter tertentu yang dianggap alami, cenderung mengembangkan niat baik, menjadi anak baik, saling berhubungan baik, peduli terhadap orang lain.

b) Authority and social order maintenance orientation
Pada tahap ini, orientasi anak adalah pada aturan dan hukum. Anak menganggap perlunya menjaga ketertiban, memenuhi kewajiban dan tugas umum, mencegah terjadinya kekacauan system. Hukum dan perintah penguasa adalah mutlak dan final, penekanan pada kewajiban dan tugas terkait dengan perannya yang diterima di masyarakat dan public.

3) Post conventional moral reasoning

a) Contranctual legalistic orientation
Pada tahap ini, orientasi anak pada legalitas kontrak social. Anak mulai peduli pada hak azasi individu, dan yang baik adalah yang disepakati oleh mayoritas masyarakat. Anak menyadari bahwa nilai (benar/salah, baik/buruk, suka/tidak sukad, dll) adalah relative, menyadari bahwa hukum adalah intrumen yang disetujui untuk mengatur kehidupan masyarakat, dan itu dapat diubha melalui diskusi apabila hukum gagal mengetur masyarakat.

b) Conscience or principle orientation
Pada tahap ini, orientasi adalah pada prinsip-prinsip etika yang bersifat universal. Benar-salah harus disesuaikan dengan tuntutan prinsip-prinsip etika yang bersifat ini sari dari etika universal. Aturan hukum legal harus dipisahkan dari aturan moral. Masing-masing (hukum legal dan moral) harus diakui terpisah, masing-masing mempunyai penerapannya sendiri, tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai etika / moral.

Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget

Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget
Jean Piaget lebih memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif anak dan mengelompokkannya dalam empat tahap.
Jean Piaget latar belakangnya adalah pakar biology dari Swiss yang hidup pada tahun 1897 sampai tahun 1980 (Harre dan Lamb), 1988). Teori-teorinya dikembangkan dari hasil pengamatan terhadap tiga orang anak kandungnya sendiri, kebanyakan berdasarkan hasil pengamatan pembicaraanya dengan anak atau antar anak-anak sendiri. Piaget lebih memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif anak dan mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:

1) Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)
Tahap ini juga disebut masa discriminating dan labeling. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex, bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.

2) Tahap praoperasional (2-4 ahun)
Pada tahap praoperasional, atau prakonseptual, atau disebut juga denga masa intuitif, anak mulai mengembangkan kemampuan menerima stimulus secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai berkembang, pemikiran masih statis, belum dapat berfikir abstrak, dan kemampuan persepsi waktu dan ruang masih terbatas.

3) Tahap operasional konkrit (7-11 tahun)
Tahap ini juga disebut masa performing operation. Pada masa ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.

4) Tahap operasonal formal (11-15 tahun)
Tahap ini juga disebut masa proportional thinking. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, seperti berfikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, mampu berfikir secara abstrak dan secara reflektif, serta mampu memecahkan berbagai masalah.

SAYA TIPE GURU SEPERTI APA DI SEKOLAH???

http://harianhaluan.com/assets/berita/original/3720518900-opini.jpg?w=480 
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir seseorang dan guru mempunyai andil besar di dalam membangun sebuah generasi. Semakin banyak tantangan yang dihadapi dan persoalan-persoalan yang perlu segera ditemukan jalan keluarnya. Menuntut guru untuk menciptakan golongan manusia penemu solusi bukan sebaliknya pembuat masalah.


Menurut George Couros, penulis buku The Innovator's Mindset, ada beberapa tipe guru yang kita perlukan di dalam ruang kelas jika ingin berhasil menghadapi tantangan-tantangan global dan membuat anak-anak semakin maju. Berikut sembilan tipe guru yang dibutuhkan Indonesia supaya anak-anak bangsa semakin maju seperti yang dilansir dari idntimes.com (26/10/16).

1. Tipe Guru Yang Mudah Beradaptasi

Perubahan adalah hal yang pasti terjadi. Oleh karena itu, guru juga punya kewajiban untuk selalu mengevaluasi posisi dan metode yang diadopsi dalam mendidik. Jika 10 tahun lalu membentak dan memukul mungkin merupakan sesuatu yang wajar. Tapi, sekarang cara-cara itu tidak efektif dan guru bisa diproses hukum bila siswa tidak terima.

2. Tipe Guru Yang Menghargai Perbedaan Pendapat

Dulu hafalan adalah salah satu ukuran kesuksesan seorang siswa. Kita tidak terbiasa berpikir kritis dan berani memberikan pendapat yang berbeda. Jika diantara lima siswa, sangat normal bila ada lima pendapat berbeda. Ini juga yang akan membuat mereka lebih toleran terhadap perbedaan.

3. Tipe Guru Yang Kritis Dalam Menerima Informasi

Guru perlu membiasakan siswa agar mereka melakukan refleksi apakah sebuah informasi itu benar. Seringkali karena tuntutan untuk selalu cepat dalam memutuskan sesuatu, kita melompati proses-proses yang diperlukan untuk mencerna informasi. Akibatnya, kita malah turut menyebarkan kebohongan.

4. Tipe Guru Yang Bisa Berkolaborasi

Guru bukanlah orang paling tahu tentang semua hal di dunia ini. Berangkat dari fakta tersebut para guru bisa mengajari siswa bahwa mereka bisa belajar dari siapapun dan dimanapun. Pelajaran bisa diambil dari cerita-cerita orangtua, tukang kebun sekolah maupun ibu penjaga kantin.

5. Tipe Guru Yang Mampu Berinovasi

Guru masa kini wajib menciptakan sebuah lingkungan dimana inovasi dan kreativitas itu dihargai, bahkan didukung. Di masa depan, para siswa harus bisa menciptakan hal-hal yang bisa berkontribusi dalam penyelesaian masalah bukan melalui tindakan kekerasan, melainkan cara-cara kreatif dan out-of-the-box.

6. Tipe Guru Pemimpin

Guru yang punya jiwa kepemimpinan mampu mempengaruhi orang lain secara positif untuk membuat progres di area-area tertentu. Pengaruh tersebut tidak hanya kepada siswa, tapi juga metode pengajaran, kurikulum, hingga keorganisasian.

7. Tipe Guru Pendongeng

Sekarang, untuk membuat siswa bersemangat, guru perlu belajar menjadi pendongeng yang baik dan membiarkan anak didik berimajinasi. Jangan membuang waktu dengan mengajar di depan kelas, tapi siswa-siswa merasa bosan dan malah tidak mendapatkan ilmu apapun. Menulis di papan tulis atau mendengarkan ceramah adalah cara-cara lama.

8. Tipe Guru Perancang

Belajar tidak harus dilakukan di dalam kelas dengan buku dan alat tulis di atas meja. Siswa bisa belajar di luar ruangan. Gunakan metode yang paling tidak membuat mereka tidak bosan selalu melihat dinding-dinding kelas.

9. Tipe Guru Seniman

Guru yang baik adalah seorang seniman. Maksudnya, sebagai pendidik, guru harus terus mengasah kemampuan untuk menjalankan profesi mulia ini. Guru dan siswa bisa sama-sama belajar untuk kemajuan pendidikan.

SAYA TIPE GURU SEPERTI APA DI SEKOLAH???

Empat Hal Penting Dalam Implementasi Kurikulum 2013 (K-13)


 Empat Hal Penting Dalam Implementasi Kurikulum 2013 (K-13)

Gambar terkaitSalah satu hal penting yang menjadi agenda atau fokus dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13) adalah pembelajaran abad 21. Pada K-13 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Adapun pembelajaran abad 21 mencerminkan empat hal.

1. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking skill)

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek. Guru jangan risih atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi.



Yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Kreativitas (creativity)

Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi acara menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya anak-anak didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa kini agar siswa merasa dihargai.

Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu;
(1) kecerdasan matematika-logika, 
(2) kecerdasan bahasa, 
(3) kecerdasan musikal, 
(4) kecerdasan kinestetis, 
(5) kecerdasan visual-spasial, 
(6) kecerdasan intrapersonal, 
(7) kecerdasan interpersonal, dan 
(8) kecerdasan naturalis.

3. Ketiga, komunikasi (communication)

Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi bisa menjadi sarana untuk semakin merekatkan hubungan antar manusia, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber masalah ketika terjadi miskomunikasi atau komunikasi kurang berjalan dengan baik. Penguasaan bahasa menjadi sangat penting dalam berkomunikasi.

Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antarsesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.

4. Kolaborasi (collaboration)

Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.

Senin, 20 Februari 2017

KEBISUAN DAN KETULIAN JIWA MANUSIA HANYA BISA DISEMBUHKAN DENGAN DOA



KEBISUAN DAN KETULIAN JIWA MANUSIA HANYA BISA DISEMBUHKAN DENGAN DOA
(Sebuah refleksi pribadi atas perikop Markus 9:14-29 dari Onal Maturbongs buat saya dan anda, para pembaca dan orang beriman)



Sebagai orang beriman, setiap orang pasti percaya akan kuasa doa dalam hidupnya. Kisah yang diceritakan dalam bacaan Kitab Suci, khususnya pada perikop Markus 9:14-29 memberikan salah satu contoh konkret bagaimana kuasa doa yang ditunjukkan Yesus kepada kita.
Jika kita membaca kutipan terakhir dari kisah yang panjang ini, tepatnya pada Mrk 9:29, Yesus menegaskan bahwa “JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA”. Dalam perikop Markus 9:14-29, dikisahkan bahwa ada seorang anak dirasuki setan sehingga ia mengalami kebisuan dan ketulian (Mrk 9:25). Dengan kuasa dan perintah Yesus, setan itu keluar dari anak tersebut dan anak itu bisa kembali sehat seperti semula.
Yesus bisa berbuat demikian karena kata-kataNYA bukan sebuah perintah biasa melainkan sebuah doa bagi keselamatan anak tersebut. Dilain pihak, apa yang keluar dari mulut Yesus adalah sebuah sabda Ilahi. Dengan demikian, ucapan Yesus adalah sebuah doa. Doa yang mampu mengusir setan dan doa yang mampu memberikan kesembuhan bagi penderita.
Dalam refleksi ini, saya tidak membahas kaitan antara kuasa doa dengan pengusiran setan melainkan saya mencoba berefleksi tentang kuasa doa dengan kebisuan dan ketulian sambil melihat relevansinya dengan kehidupan sekarang ini.
Untuk itu, hal pertama yang harus dimengerti disini adalah soal bisu dan tuli. Bisu dan tuli dalam masa sekarang bukan soal bisu dan tuli dalam fisik manusiawi seperti dimengerti dalam dunia kesehatan. Melainkan bisu dan tuli yang berkaitan dengan jiwa manusia. Pertanyaannya apakah bisu itu? Apakah tuli itu?
·         Bisu yang dimaksudkan adalah ketidakmampuan manusia untuk berkata jujur dan baik. Dalam konteks ini, saya mengajak kita untuk merenungkan kembali apakah saya sudah jujur? Apakah saya bisa berkata-kata dengan baik? Ataukah saya suka menipu, suka berbicara kasar, suka mencaci maki, suka berbicara kejelekan orang lain, suka memfitnah orang lain dan sebagainya.
·         Tuli yang dimaksudkan adalah ketidakmampuan manusia untuk membuka telinga bagi kebenaran. Dalam konteks ini, saya mengajak kita untuk merenungkan kembali apakah saya sudah cukup membuka telinga bagi hal-hal baik? Atau saya cuek dan masa bodoh ketika mendengar jeritan dan minta tolong dari orang lain?
Jika merenungkan kembali perjalanan hidup kita maka sadar atau tidak sadar kita sudah berperilaku bisu dan tuli. Kebisuan dan ketulian kejiwaan adalah sebuah penyakit yang perlu untuk disembuhkan. Cara terbaik untuk menyembuhkan kebisuan dan ketulian jiwa kita adalah dengan doa. Pertanyaan kenapa dengan doa baru kita bisa sembuh dari kebisuan dan ketulian jiwa kita?
Yesus mampu menyembuhkan kebisuan dan ketulian si penderita karena kata-katanya adalah sebuah perintah ilahi, sebuah sabda, sebuah doa. Itu berarti, kita dapat menyembuhkan kebisuan dan ketulian jiwa kita dengan doa.
Dengan memberikan ruang dan waktu yang lebih banyak untuk berdoa, maka kita memberikan ruang bagi kuasa Tuhan dalam hidup kita. Semakin kita dekat dengan Tuhan maka Tuhan akan menuntun hidup kita kepada kebaikan. Cara Tuhan menuntun kita adalah sebuah proses penyembuhan spiritual bagi jiwa kita. Disaat kita berdoa, secara otomatis hati, pikiran dan perasaan kita akan terbawa kepada nilai-nilai kebaikan. Dengan tekun berdoa, kita tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang kurang baik atau jahat. Dengan tekun berdoa, kita untuk berbuat jahat dan selalu berpikir untuk berbuat baik.
Dalam kaitan dengan kebisuan dan ketulian jiwa kita, dengan kita tekun dalam doa, kita akan diarahkan untuk peka mendengarkan hal-hal yang baik, berbicara dan berkata-kata yang baik dan sopan. Kita bukan lagi orang yang cuek dengan situasi sekitar kita yang membutuhkan kebaikan hati kita. Kita bukan lagi orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain, mencaci maki, berbicara kasar dan sebagainya.
Marilah, sebagai orang beriman, kita sembuhkan diri kita dengan tekun dalam doa. Biarkan Tuhan berkarya dalam hati kita dan menuntun kita kepada kebaikan-kebaikan ilahi. Singkat kata, jika ingin menjadi orang baik, mari berdoa. Ingatlah HANYA DENGAN DOA, KITA TIDAK LAGI BISU DAN TULI.

AMETUR.................!!!!!!!!

Senin, 18 Juli 2016

JADIKAN HATIMU SELUAS TELAGA UNTUK MENAMPUNG GARAMNYA KEHIDUPAN

GARAM DAN TELAGA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet
Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama
Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya utk mengambil segelas air
Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas dan diaduknya perlahan
"Coba minum ini ...dan katakan bagaimana rasanya..." kata pak tua

"Pahit, pahit sekali" jawab sang tamu, sambil meludah ke samping

Pak tua itu sedikit tersenyum
Ia mengajak tamunya itu berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya
Kedua orang itu berjalan berdampinga dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang

Pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk dan tercipta riak air mengusik ketenangan telag itu.


"Coba ambil ari dari telaga ini dan minumlah..."
Saat tamu itu selesai mereguk air itu pak tua berkata lagi
"Bagaimana rasanya?"
"Segar..." sahut tamunya
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya pak tua lagi
"Tidak" jawab anak muda itu

Dengan bijak pak tua menepuk nepuk punggung si anak muda
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh di samping telaga

"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan sama.
Tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung pada wadah yang kita miliki
Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya
Itu semua tergantung pada hati kita
Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegaalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan
Lapangkan dadamu menerima semuanya
Luaskan hatimu utk menampung setiap kepahitan
Hatimu adalah wadah itu
Perasaanmu adalah tempat itu
Kalbumu adalah tempat menampung segalahnya
jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas,
Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya jadi kesegaran dan kebahagiaan

Keduanya beranjak pulang
Mereka sama2 belajar hari itu
Dan pak tua yang bijak kembali menyimpan segenggam garam utk anak muda lain yang sering datang dan membawa keresahan jiwa

Rabu, 15 Juni 2016

Mengapa Guru Harus "Cerewet" Di Sekolah. . . . . ? ? ? ?

Guru adalah pekerjaan mulia, pahlawan tanpa tanda jasa. Banyak orang yang bercita-cita menjadi guru sejak kecil. Salah satu persyaratan yang tidak tertulis untuk menjadi guru adalah harus ekstra cerewet. Mengapa kecerewetannya harus ekstra? Tentu saja karena :
guru cerewet

Guru Transfer Ilmu Lewat Mulut
Guru harus menjelaskan semua yang dia tahu kepada anak didiknya lewat kata-kata. Transfer ilmunya lewat mulut. Bahkan guru untuk anak-anak cacat yang gagu pun harus bicara untuk memberikan rangsangan kepada anak didiknya berbicara. Mengajarkan anak didiknya untuk membaca gerakan bibir.Meskipun guru memiliki karakter yang super kalem pun di depan kelas tetap harus bersuara. Bagaimana muridnya bisa paham kalau gurunya diam dan hanya berbicara dengan bahasa kalbu?

Guru Melatih Muridnya Melalui Ucapan
Belajar yang disertai dengan latihan / melihat contoh langsung yang disertai narasi akan lebih memudahkan memahaminya dibanding cuma lihat gambar tanpa narasi. Bandingkan kalau kita cari sesuatu lewat internet kan lebih mudah paham kalo disertai tutorial dan narasi. Kalau guru gak cerewet gimana bisa melatih muridnya dengan baik. Contoh guru olahraga, guru kesenian / keterampilan dan juga guru bahasa.

Guru Mengarahkan Murid Melalui Ucapan
Guru selain mendidik anak-anak untuk paham mata pelajaran tertentu juga berkewajiban untuk mendidik sikap dan perilaku anak didiknya. Guru yang baik akan mendidik murid-muridnya agar bisa berperilaku baik. Gimana cara memberitahu mana perilaku yang baik kalau gak ngomong?

Guru Menerapkan Konsep Punishment and Reward Lewat Kata-Kata.
Guru BK (Bimbingan / Konseling) dari dulu selalu ditakuti. Soalnya kalo dipanggil ke ruang BK alamat dapat hukuman dan ceramah panjang lebar. Lalu bagaimana guru BK bisa menjelaskan kesalahan si murid kalu cuma tatap muka doang? Begitu juga dengan murid yang berprestasi dan mendapatkan penghargaan, pasti guru harus menjelaskan alasan Si A dapat penghargaan dan bisa jadi teladan bagi murid lainnya. Kalau gurunya gak cerewet ntar gak ada yang ngerti penjelasannya he he..

Bonus :

Guru Kebanyakan Perempuan
Selain karena perempuan memiliki empati yang baik dan lebih bisa memahami kondisi anak didik , perempuan juga memiliki kemampuan verbal (kemampuan berkata-kata / berbicara ) lebih baik dari laki-laki. Tahu sendiri kan kalau perempuan berkata-kata lebih banyak daripada laki-laki. Guru perempuan bisa mengekspresikan lebih banyak hal kepada murid-muridnya karena kemampuan berkata-katanya itu / kecerewetan ekstra dibanding guru laki-laki.

Kecerewetan guru adalah kecerewetan yang positif. Jadi bagi para murid berterima kasihlah pada guru, karena kecerewetannya membuat kalian jadi paham ilmunya, jadi pintar dan sukses di masa depan. Semoga bermnafaat.

Selasa, 14 Juni 2016

Revisi Kurikulum 2013, Guru Lebih Dimudahkan

Kuta Bali, Kemendikbud --- Revisi terhadap dokumen Kurikulum 2013 telah dilakukan tahun 2016 ini. Dari hasil revisi Kurikulum 2013 ini, diharapkan para guru lebih mudah mengimplementasikannya. Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Tjipto Sumadi dalam sebuah dialog pendidikan yang membahas implementasi Kurikulum 2013 di Hotel Grand Inna Kuta Bali, Sabtu (11/6/2016).
Tjipto menambahkan hasil revisi ini akan lebih memudahkan kerja guru, terutama dalam penilaian terhadap siswanya. "Kalau sebelumnya guru matematika harus menilai sikap spiritual dan sikap sosial semua siswa, sekarang tidak. Tugas itu dilakukan guru Agama dan Budi Pekerti serta guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara langsung. Namun guru matematika tetap berkewajiban menumbuhkembangkan karakter anak, agar anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya bangsa kita," ujar Tjipto.
Tugas menumbuhkan karakter positif siswa menjadi tanggung jawab bersama. "Guru matematika jika melihat ketidakjujuran anak, tidak bisa mengatakan itu tugas guru agama dan guru PPKn saja. Itu tetap memnjadi tanggung jawab semua," tambahnya.
Terkait dengan implementasi Kurikulum 2013, Tjipto mengatakan Kemendikbud melakukan pelatihan instruktur secara berjenjang. Pelatihan instruktur dimulai dari pelatihan narasumber nasional, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan instruktur provinsi dan selanjutnya instruktur daerah. "Guru setelah dilatih, nanti mulai bulan Agustus atau September paling lambat akan didampingi tim pendamping," ujarnya.
Tim pendamping tidak didatangkan dari pusat namun memberdayakan sumber daya manusia dari masing-masing daerah. "Kita dorong agar tim pendamping kurikulum yang terdiri atas pengawas dan tim yang sudah terbentuk selama ini dari tiap daerah sebagai tokoh sentral. Jadi daerah tidak tergantung dari pusat namun daerah terus berkembang sesuai batas kemampuan masing-masing dan sesuai nilai-nilai yang berkembang di daerah tersebut," kata Tjipto yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta tersebut.
Tahapan implementasi Kurikulum 2013 sesuai kesepakatan Kemendikbud dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dilaksanakan secara bertahap. "Sebelumnya sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013 sebanyak 6%, lalu sekarang tambah 19% menjadi 25%. Nanti kita naikkan lagi 35% menjadi 60%. Sehingga pada tahun 2018/2019 implementasinya ditargetkan sudah 100%," pungkas Tjipto.

Sumber :  http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/06/revisi-kurikulum-2013-guru-lebih-dimudahkan

RPP Pendidikan Agama Katolik & Budi Pekerti K13 Kelas 1 Pelajaran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERKARAKTER JMJ (RPP) Nama Sekolah            : SD Katolik Santa Maria Piru Mata Pelajaran    ...